Adbox
Adbox
Amar Aziz
Selamat datang, terimakasih sudah bertamu.
Latest Articles

Sabtu, 09 April 2016


Continue reading

Continue reading


Continue reading

Rabu, 27 Mei 2015

"Pantang pulang sebelum padam" Menarik juga motto milik regu pemadam kebakaran ini, mereka isyaratkan pada kita kalau mereka punya tujuan yang jelas (memadamkan api), dan mereka juga mengisyaratkan bahwa ada "pantangan manis" yang harus dihindari sampai tujuannya tercapai, (pantang pulang).

Bukan berniat membahas pemadam kebakaran, tapi hanya ingin "mencomot" inspirasi dari motto mereka.

Dari mereka, kita bisa belajar bahwa setiap yang dilakukan harus punya tujuan yang jelas, kita juga harus tahu dan komit pada target yang dibuat hingga benar-benar tercapai, bukan sekedar mengalir ikuti arus.

Memasang "pantangan manis" sebelum berhasil capai tujuan sepertinya juga keputusan tepat, karena bisa jadi pemacu semangat hingga tak membelot.

Rasanya tak salah kalau kemudian kita juga pasang "pantangan manis" seperti mereka, misalnya untuk Mahasiswa Al-Azhar
"Pantang pulang sebelum Lc."
atau,
"Pantang pulang sebelum tingkat sekian"
Kalau pasang motto seperti ini, berarti kita sudah "mendoktrin" otak kita untuk berfikir;
"Saya harus rajin-rajin belajar supaya cepat selesai dan bisa segera pulang".

Kalau kawan-kawan mahasiswa biasanya lagi heboh-hebohnya masalah nikah, tak salah juga kalau kemudian memasang "pantangan manis" itu sampai target yang kita inginkan tercapai.
Atau apa lah
Berani?

Amar Aziz
Kairo, 14 Mei 2014
Continue reading



Suatu saat nanti setiap kita akan hilang dalam tumpukan tanah yang menimbun, mau ataupun tidak, cepat ataupun lambat proses itu akan nyata adanya.

Hidup setiap indifidu memiliki liku dan ritme unik yang kadang tak tertebak dan sering melejit-lejit menyentak. Seteratur atau semengejutkan apapun alur yang kita punya, ia akan sontak terhenti saat ajal sudah berpamit dari raga. Jika nyawa telah berpulang, jasad tinggal seonggok daging yang harus segera dikuburkan.

Saat ruh berpisah dari jasad saat itulah usia terhenti. Tak ada transaksi yang menawarkan untuk mengembalikan kehidupan di bumi yang kedua kali. Saat itu pulalah nasib orang akan berbeda-beda, ada yang namanya ikut terkubur bersamaan terkuburnya jasad. Namun adapula yang meski jasadnya terkubur namun namanya tetap “hidup”.

Sebagian orang namanya tetap hidup karena memang sejarah menuliskan atas jasa besarnya, sebaliknya ada yang namanya terkubur bersama jasadnya tersebab peran yang kurang besar dalam tolak ukur sejarah, adapula yang meski namanya tak terekam dalam sejarah namun ia berhasil menulis sejarahnya sendiri dalam goresan aksara. Maka akan menjadi luar biasa saat kita bisa menggabungkan keduanya. Buatlah sejarah mencatat nama baik kita dan mengabadikannya, sedang di sisi lain kita terus merekam sendiri jejak-jejak yang telah kita ciptakan dan buah fikiran yang perlu disebar luaskan dalam sajian tulisan yang kita torehkan.

Menulis, ya menulis adalah salah satu cara kita untuk memperpanjang usia setelah ruh terpisah dari raga.

Menulislah, maka hidupmu akan terekam!
Menulislah, maka darinya pahala akan terus teralirkan!
Menulislah, maka idemu akan tetap berjalan!
Menulislah, maka fikiranmu akan tetap dimanfaatkan!
Menulislah, maka namamu akan tetap hidup dan terabadikan!

Menulislah dan ambil pelajaran dari apa yang sudah kita lalui, pengalaman terlalu murah jika hanya untuk dinikmati sendiri. Menulislah dan rekamlah jejakmu, abadikan setiap langkahnya.

Menulislah, sekalipun usia jasadmu terbatas namun usia namamu akan panjang dan tak lekang, serta fikiranmu akan tetap dinikmati tanpa ada kata basi.

Amar Ma'ruf Abdul Aziz
Kairo, Jum'at  20/03/2015
Continue reading


Salah satu perilaku memperihatikan yg kerap menjangkit seseorang adalah kebiasaan mencela dan mencari-cari kesalahan orang lain, kemudian merasa bangga akan hal itu.

Dirinya semakin senang jika dapat menyalah-nyalahkan orang lain dan kesalahan tersebut tersebar serta dapat diketahui oleh banyak orang.

Seorang pencela, hidupnya akan selalu keruh, lantaran sibuk dengan mencari-cari kesalahan orang lain, bahkan tak jarang hal yang lumrah-pun dipandang salah. Akibatnya banyak hal-hal penting yang seharusnya dikerjakan dan semestinya mendapat porsi lebih jadi terlantarkan.

Selanjutnya, pastilah orang seperti ini akan merasa tertekan dan kehilangan kebahagiaan yang semestinya, karena waktunya banyak terforsir lantaran sibuk mengorek-ngorek dan menyalahkan orang lain.

Seorang pencela dan mereka yang sibuk mencari kesalahan orang lain biasanya akan lupa dengan kekurangannya sendiri.
"Semut di seberang pulau tampak, namun gajah di pelupuk mata tak tampak".


Amar Aziz
Continue reading

Jumat, 27 Maret 2015


Continue reading